Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Biografi Ebiet G Ade


Nama Lendkap : Ebiet Ghoffard Ade
Nama Asli        : Abid Ghoffar Aboe Djafar

Ebiet G Ade. lahir di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954. adalah seorang penyanyi dan penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Lewat lagu-lagunya yang ber-genre balada, pada awal kariernya, ia ‘memotret’ suasana kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dll. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain, kecuali lagu Surat dari Desa yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Di jajaran musisi Tanah Air, ia termasuk penyanyi sekaligus pengarang lagu yang dekat dengan suasana alam dan duka nestapa anak manusia. Sebut saja lagu, Aku Ingin Pulang, Berita Kepada Kawan, Kupu-kupu Kertas, Untuk Kita Renungkan, dan beberapa lagu baladanya yang lain selalu menggambarkan keadaan hidup manusia. Luar biasanya, lagu-lagu tersebut masih sangat relevan dengan peristiwa-peristiwa sosial yang pernah terjadi beberapa waktu lalu di Indonesia – dan mungkin juga hingga sekarang. Meskipun lagu-lagu tersebut telah dibuat beberapa puluh tahun silam, jiwa lagu tersebut masih menggetarkan sanubari pendengarnya, hingga kita (selaku pendengarnya) masih sadar bahwa kita hanyalah manusia. Bak penggembala yang terus mengingatkan domba-dombanya untuk menuju ke arah padang kesadaran sebagai makhluk-Nya, penyanyi ini menjadi legenda musik tanah air melalui syair-syair sendunya.

Biografi Ebiet G. Ade
Bertepatan dengan hari Kartini tahun 1954, ia lahir dengan nama Abid Ghoffar Aboe Dja’far, di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah. Bontot dari enam bersaudara pasangan Aboe Dja’far—seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Saodah—seorang pedagang kain ini sebenarnya hampir menjadi seorang guru agama. Namun belum sempat lulus dari sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (setingkat SMP), ia hengkang ke SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Dilanjut ke SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta sehabis lulus SMP. Ihwal namanya yang berubah menjadi Ebiet, pria ini mengaku tanpa sebuah kesengajaan. Waktu SMU ia pernah mengikuti kursus bahasa Inggris, gurunya yang asli bule selalu memanggilnya dengan panggilan Ebid. Karena orang bule menyebut huruf A dengan E. Begitulah, kemudian Ebiet pun mengutak-atik sendiri namanya sendiri, akhirnya didapatkan nama yang dirasa pas membawa hoki. Ebiet G. Ade, singkatan dari Ebiet Ghoffar Aboe Dja’far. 

Medio 1971, waktu umurnya sekira-kira 17 tahun, ia seringkali keluyuran tidak jelas di seputaran Malioboro, Yogyakarta. Bertemu dengan para seniman-seniman muda dan bersahabat dengan beberapa orang yang memenuhi hasratnya berkreasi di bidang seni, macam: Emha Ainun Nadjib (Penyair), Eko Tunas (Cerpenis), E.H. Kartanegara (Penulis). Sepertinya Malioboro semacam rumah penggodokan jiwa kreatif Ebiet muda, karena selepas melewati fase kehidupan di sini, ia banyak terpengaruh dengan ide-ide yang diserapnya di sini. Maka, mau tak mau ia pun jadi menyukai puisi dan mencoba mendeklamasikannya di depan orang-orang. Akan tetapi karena tak mampu melakukan hal itu, Ebiet mencari akal supaya bisa tetap tampil membacakan puisi, tanpa perlu mendeklamasikannya. Ia pun menggabungkan musik dengan puisi, kemudian mencari-cari nada dan membentuknya menjadi musik puisi. Bermodalkan ajaran gitar akustik dari kakak ketiganya, Ahmad Mukhodam, sewaktu masih di Banjarnegara dan Kusbini waktu di Yogyakarta, ia pun pede memetik-metik dawai gitar dan melantunkan puisi menjadi musikalisasi puisi. Indah terdengar tuaian dari Ebiet ini saat memusikalisasi puisi orang lain.

Inilah ihwal mulanya Ebiet bisa berkarir di kancah dunia musik Indonesia. Walau hanya beberapa kali manggung—seperti pentas seni di Senisono, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta dan di Jawa Tengah—dan menganggapnya hanya sebatas hobi, namun atas desakan dari kawan-kawannya di PSK (Persada Studi Klub, yang didirikan oleh Umbu Landu Paranggi) dan teman sekosnya, akhirnya ia memutuskan untuk terjun juga di belantika musik tanah air. Sekira 1979 saat umur mencapai angka 25, ia hengkang dari Yogyakarta menuju ibukota Indonesia mengadu peruntungan, dengan menjadi seorang penyanyi. Sekurun itu menjadi penyanyi bukanlah profesi yang bisa dibanggakan seperti sekarang, namun sebuah profesi yang diambil dengan pengorbanan yang luar biasa. Karena penyanyi dipandang sebelah mata! Tidak keren! Dan dianggap profesi kere!

Berkali-kali ditolak perusahaan rekaman tak membuatnya jera, justru sebaliknya Ebiet semakin getol mencipta lagu, hingga akhirnya sebuah perusahaan rekaman bernama Jackson Record tertarik untuk membuatkannya sebuah album bertajuk Camellia I. Cengkok Melayu beserta lirik yang tak biasa untuk pasar musik Indonesia, membuatnya disambut hangat banyak kalangan. Media-media pun mulai banyak yang memuat tentang dirinya, sebut saja koran Kompas dalam artikelnya “Ebiet Menyajikan yang Lain” tertanggal 27 Mei 1979 dan majalah Tempo edisi 26 Mei 1979 dengan artikelnya “Penyair yang Bernyanyi”. Tak main-main album Camellia I pun sukses dari sisi penjualan dengan terjual habis lebih dari dua juta kopi. Lagu-lagunya pun banyak diputar-putar di radio-radio RRI seluruh Indonesia. 


Senin, 12 Mei 2014

iwan fals (biografi)




Biografi Iwan Fals

 

Biografi Iwab Fals ini diambil dari
(iwanfals.co.id), Silahkan kunjungi website resminya.
Iwan Fals
Iwan Fals
Aku lahir tanggal 3 September 1961. Kata ibuku, ketika aku berumur bulanan, setiap kali mendengar suara adzan maghrib aku selalu menangis. Aku nggak tau kenapa sampai sekarang pun aku masih gambang menangis. Biar begini-begini, aku orangnya lembut dan gampang tersentuh. Sebagai contoh, menyaksikan berita di televisi yang memberitakan ada orang sukses lalu medapatkan penghargaan atas prestasinya, aku pun bisa menangis. Melihat seorang ibu yang menunjukkan cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat aku tersentuh dan lalu menangis.
Bicara perjalanan karir musikku, dimulai ketika aku aktif ngamen di Bandung. Aku mulai ngamen ketika berumur 13 tahun. Waktu itu aku masih SMP. Aku belajar main gitar dari teman-teman nongkrongku. Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar itu. Tapi malah senarnya putus. Aku dimarahi.
Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatanku.
Dulu aku pernah sekolah di Jeddah, Arab Saudi, di KBRI selama 8 bulan. Kebetulan di sana ada saudara orang tuaku yang nggak punya anak. Karena tinggal di negeri orang, aku merasakan sangat membutuhkan hiburan. Hiburan satu-satunya bagiku adalah gitar yang kubawa dari Indonesia. Saat itu ada dua lagu yang selalu aku mainkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya.
Waktu pulang dari Jeddah pas musim Haji. Kalau di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam, aku cuma menenteng gitar kesayanganku. Dalam perjalanan dalam pesawat dari Jeddah ke Indonesia, pengetahuan gitarku bertambah. Melihat ada anak kecil bawa gitar di pesawat, membuat seorang pramugari heran. Pramugari itu lalu menghampiriku dan meminjam gitarku. Tapi begitu baru akan memainkan, pramugari itu heran. Soalnya suara gitarku fals. “Kok kayak gini steman-nya?” tanyanya. Waktu itu, meski sudah bisa sedikit-sedikit aku memang belum bisa nyetem gitar. Setelah membetulkan gitarku, pramugari itu lalu mengajariku memainkan lagu Blowing in the Wind-nya Bob Dylan.
Waktu sekolah di SMP 5 Bandung aku juga punya pengalaman menarik dengan gitar. Suatu ketika, seorang guruku menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi karena ada anak perempuan yang jago memainkan gitar, aku menawarkan diri. “Gengsi dong,” pikirku waktu itu. Maka jadilah aku pemain gitar di vokal grup sekolahku.
Kegandrunganku pada gitar terus berlanjut. Saat itu teman-teman mainku juga suka memainkan gitar. Biasanya mereka memainkan lagu-lagu Rolling Stones. Melihat teman-temanku jago main gitar, aku jadi iri sendiri. Aku ingin main gitar seperti mereka. Daripada nggak diterima di pergaulan, sementara aku nggak bisa memainkan lagu-lagu Rolling Stones, aku nekat memainkan laguku sendiri. Biar jelek-jelek, yang penting lagu ciptaanku sendiri, pikirku.
Untuk menarik perhatian teman-temanku, aku membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor, bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temanku pada ketawa mendengarkan laguku.
Setelah merasa bisa bikin lagu, apalagi bisa bikin orang tertawa, timbul keinginan untuk mencari pendengar lebih banyak. Kalau ada hajatan, kawinan, atau sunatan, aku datang untuk menyanyi. Dulu manajernya Engkos, yang tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja di bengkel yang banyak didatangi orang, dia selalu tahu kalau ada orang yang punya hajatan.
Di SMP aku sudah merasakan betapa pengaruh musik begitu kuat. Mungkin karena aku nggak punya uang, nggak dikasih kendaraan dari orang tua untuk jalan-jalan, akhirnya perhatianku lebih banyak tercurah pada gitar. Sekolahku mulai nggak benar. Sering bolos, lalu pindah sekolah.
Aku merasakan gitar bisa menjawab kesepianku. Apalagi ketika sudah merasa bisa bikin lagu, dapat duit dari ngamen, mulailah aku sombong. Tetapi sesungguhnya semuanya itu kulakukan untuk mencari teman, agar diterima dalam pergaulan.
Suatu ketika ada orang datang ke Bandung dari Jakarta. Waktu itu aku baru sadar kalau ternyata lagu yang kuciptakan sudah terkenal di Jakarta. Maksudku sudah banyak anak muda yang memainkan laguku itu. Malah katanya ada yang mengakui lagu ciptaanku.
Sebelum orang Jakarta yang punya kenalan produser itu datang ke Bandung, aku sebetulnya sudah pernah rekaman di Radio 8 EH. Aku bikin lagu lalu diputar di radio itu. Tapi radio itu kemudian dibredel.
Setelah kedatangan orang Jakarta itu, atas anjuran teman-temanku, aku pergi ke Jakarta. Waktu itu aku masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Sebelum ke Jakarta aku menjual sepeda motorku untuk membuat master. Aku tidak sendirian. Aku bersama teman-teman dari Bandung: Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul.
Kami lalu rekaman. Ternyata kasetnya tidak laku. Ya, sudah, aku ngamen lagi, kadang-kadang ikut festival. Setelah dapat juara di festival musik country , aku ikut festival lagu humor. Kebetulan dapat nomor. Oleh Arwah Setiawan (almarhum) lagu-lagu humorku lalu direkam, diproduseri Handoko. Nama perusahaannya ABC Records. Aku rekaman ramai-ramai, sama Pepeng (kini pembawa acara kuis Jari-jari, jadi MC, dll), Krisna, dan Nana Krip. Tapi rekaman ini pun tak begitu sukses. Tetap minoritas. Hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti anak-anak muda.
Akhirnya aku rekaman di Musica Studio. Sebelum ke Musica, aku sudah rekaman sekitar 4 sampai 5 album. Setelah rekaman di Musica itu, musikku mulai digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani Willy Soemantri.

IWAN FALS
Nama asli: Virgiawan Listanto
Nama populer: Iwan Fals
Nama panggilan: Tanto
Tempat tgl. lahir: Jakarta, 3 September 1961
Alamat sekarang: Jl. Desa Leuwinanggung No. 19 Cimanggis,
Bogor Jawa Barat – Indonesia
Pendidikan:
SMP 5 Bandung,
SMAK BPK Bandung,
STP (Sekolah Tinggi Publisistik, sekarang IISIP),
Institut Kesenian Jakarta (IKJ)

“jika anda penggemar iwan fals, belilah CD dan Kaset album iwan fals yang original. jangan merusak lingkungan, cintailah perdamaian, harus adil, tegas, jujur,  jangan korupsi, sayangilah ibu, sayangilah anak,!!!”

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons